tw , cw // family issues , mentioned of divorce , mentioned of cheating , domestic violence , abusive parent , homophobic
Punggungnya kini menopang tas ransel yang cukup berat, berisikan baju dan barang-barang pribadi miliknya. Sanemi menghela nafasnya berat, rasa letih dan pegal mulai meraup seluruh tubuhnya. Ia sampai di rumah neneknya, udaranya terasa sejuk meskipun matahari tepat di atas kepalanya. Pintu rumah milik neneknya didorong pelan, rumahnya sepi. Sanemi bisa merasakan dinginnya keramik merambat ke telapak kakinya.
“Mama? Nenek? Aa pulang.”
Setelah itu Sanemi mendengar suara besi beradu ricuh dari arah dapur, tak lama muncul Sang Mama dengan celemek merah kotak-kotak kesukaannya yang sudah basah dan kotor. Senyum Sang Mama tak lagi terbendung, tangannya terbentang lebar menunggu anak sulungnya masuk kedalam pelukan hangatnya. Sanemi tersenyum dan menghambur tubuh letihnya di pelukan hangat milik Mama. Rasanya seluruh rasa letih dan pegal yang Ia rasakan tadi hilang dalam hitungan detik.
“Anak Mamaa. Sehat sayang? Mama lagi masak, sebentar lagi mateng. Aa istirahat dulu aja ya, jangan beberes dulu capek.”
Sanemi mengangguk, Ia melangkah menuju halaman belakang dulu untuk menyapa Neneknya yang sedang menonton siaran televisi lengkap dengan teh hangat di sebelahnya. Nenek menyapanya girang sembari mengelus kepala cucunya dengan sayang. Setelah itu, barulah Sanemi bergerak menuju kamarnya, tetap rapi, persis seperti sebelum ia pergi KKN. Sanemi memilih untuk langsung mandi, badannya lengket dan harus segera dibersihkan. Setelah mandi, Sanemi dapat mendengar teriakan Mama, katanya makanan sudah matang.
Aroma sayur lodeh memasuki rongga penciumannya tepat saat Ia memasuki dapur. Sayur lodeh dengan asap yang masih mengepul panas sudah tersaji rapi di meja makan, lengkap dengan bakul nasi dan juga tempe goreng kering.
Mama si paling tahu kesukaannya.
Suara denting sendok dengan piring memenuhi dapur, ketiganya makan dengan seksama dibarengi obrolan-obrolan ringan untuk mencairkan suasana. Selesai makan, Nenek berpamitan kembali ke kamarnya untuk istirahat. Tersisa mama yang masih duduk di meja makan dengan ponselnya dan Sanemi yang mencuci piring kotor, membelakangi Mama.
“Aa.. Mama minta maaf ya, karena Mama udah egois selama ini.”