https://open.spotify.com/intl-id/track/45nGWJRXJmYF4g3l4iuUyN?si=001934c4406d4cec
tw , cw // mentioned of cheating
Sanemi mengusap wajahnya kasar, dirinya frustasi.
Giyuu tidak bisa dihubungi sama sekali, semua jalur komunikasi telah diputus sepihak. Sanemi paham Giyuu pasti marah karena Ia jarang mengabari, bahkan terakhir Ia mengabari Giyuu adalah tiga hari yang lalu.
Bodoh? Iya.
Sanemi tahu betul dirinya bodoh. Dirinya hanya berdoa semoga jalanan dari Jakarta menuju Jatinangor hari ini tidak terlalu macet, sehingga dirinya bisa bergegas menemui Giyuu di apartemennya.
Sesampainya di pool travel Jatinangor, Sanemi langsung berpamitan dengan teman-temannya yang lain. Alasannya ada urusan penting. Penting sekali, sampai menyangkut hidup dan matinya. Kini Sanemi mengendarai motornya yang sengaja Ia tinggalkan di parkiran pool travel, bergegas menuju apartemen Giyuu yang jaraknya hanya membutuhkan lima menit perjalanan.
Kini tangannya berkeringat.
Ia sudah sampai di depan pintu unit apartemen Giyuu yang berada di lantai dua puluh dua. Lorong yang hening membuat Sanemi dapat mendengar detak jantungnya sendiri. Tanpa berpikir lebih panjang, tangannya terangkat untuk mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Hening kembali menyelimuti dalam beberapa detik, hingga akhirnya pintu terbuka.
Disana ada Giyuu, dengan keadaan yang cukup kusut. Rambutnya yang sudah lebih panjang terurai tidak disisir, kantung matanya pun terlihat jelas. Tangannya kotor dengan noda cat sampai ke baju dan pipinya, Sanemi yakin catnya sudah mengering. Dibelakang tubuh mungil Giyuu terdapat kanvas dan cat yang berserakan, ada pula laptopnya yang menyala.